Perjuangan Orangtua yang Memiliki Anak dengan Autisme

Sumber : http://icareautism.blogdetik.com

Memiliki anak dengan autisme bukanlah suatu pilihan yang dapat dibuat oleh orangtua. Jika mereka dapat memilih, mereka pasti ingin memiliki anak yang normal. Berikut ini adalah perjuangan bagi orangtua yang memiliki anak dengan autisme:

1. Tidak merasakan kedekatan emosi
Anak dengan autisme memiliki masalah dalam berkomunikasi. Hal ini pun menyebabkan banyak orangtua yang tidak dapat memahami apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh anak mereka. Jika tak pandai merawatnya, jarak emosi antara orang tua dan anak dengan autism bisa semakin jauh. Karena merasa tak dipahami, anak dengan autisme seakan-akan menjauh dari orangtua dan sibuk dengan dunianya sendiri. Orangtua akan sangat membutuhkan pengertian ekstra untuk merawat anak dengan autisme.
2. Butuh tenaga yang lebih besar
Orangtua membutuhkan tenaga lebih besar dalam merawat anak dengan autisme dibandingkan merawat anak normal. Hal ini tentu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah bagi orangtua. Anak dengan autisme umumnya memiliki kepekaan berlebih terhadap suara bising atau hal lain di sekitarnya. Tak heran jika banyak ditemui anak autisme yang mudah rewel dan terlihat hiperaktif, itu karena ia mudah terganggu oleh hal-hal yang menurutnya tidak nyaman.
3. Butuh kesabaran lebih
Selain tenaga ekstra, orangtua juga butuh kesabaran yang besar saat merawat anak dengan autisme karena memang tidak mudah mengobatinya, dan mengatasi kerewelan anak mereka.
4. Butuh biaya yang besar
Anak dengan autisme tentu berbeda dengan anak normal lainnya. Mereka membutuhkan makanan khusus, cara perawatan khusus, cara mendidik khusus juga sekolah khusus, yang kesemuanya itu tentu tidak murah. Orangtua harus mengeluarkan biaya tambahan agar anak mereka tidak salah pengasuhan, mandiri dan masih bisa terus berkarya.

5. Putus asa karena autisme tak bisa sembuh
Autisme tidak dapat disembuhkan, namun dapat dibantu dengan terapi-terapi yang sudah berkembang saat ini. Terapi-terapi tersebut bisa mengurangi gejala dan mengontrol perilaku hiperaktif pada anak. Walaupun begitu, tak jarang masih seringkali merasa putus asa.


6. Khawatir dengan masa depan anak
Kesulitan berkomunikasi yang dimiliki anak dengan autisme membuatnya akan sulit berinteraksi di sekolah atau kelak saat mencari pekerjaan. Meski nyatanya banyak anak autis yang memiliki IQ tinggi, tapi jika ia diasuh dalam pengasuhan yang salah, tentu saja dapat merusak masa depannya.

7. Mendapat stigma negatif
Stigma negatif terhadap anak autis masih saja melekat di masyarakat. Bahkan istilah ‘autis’ sendiri masih sering digunakan sebagai bahan ejekan yang dapat menyakiti hati keluarga atau anak autism itu sendiri. Untuk merawat anak dengan autisme saja orangtua sudah membutuhkan tenaga dan biaya ekstra, sebaiknya jangan ditambah dengan stigma-stigma negatif yang semakin memperberat bebannya.
Begitu berat dan besar perjuangan para orangtua yang memiliki anak dengan autisme. Tentu saja kita harus menghormati dan menghargai perjuangan mereka. Jadi, STOP gunakan kata autis sebagai ejekan! Mari kita sayangi mereka sama seperti kita menyayangi keluarga dan teman kita sendiri.

FUN WALK 2015 "AUTISM IS NOT A JOKE!"


10 Jenis Terapi Autis

sumber : mengobatiautis.com
Sumber : http://www.autis.info
Akhir-akhir ini bermunculan berbagai cara / obat / suplemen yang ditawarkan dengan iming-iming bisa menyembuhkan autisme. Kadang-kadang secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara-cara mengiklankan diri di televisi / radio / tulisan-tulisan.
Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.

1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.

4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.

Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.

6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.

7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,

8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.

9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).