Tanda-tanda Bayi Autis yang Perlu Diketahui Orangtua

Putro Agus Harnowo - detikHealth- Mr Rizz Yogya - http://www.autisfamily.com
Jumlah anak yang mengalami autisme mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Maka anak-anak sebaiknya diperiksa ke dokter anak sejak usia 18 dan 24 bulan untuk mengetahui gejala autisme. Penanganan sejak dini akan lebih baik bagi masa depan bayi.
Tanda-tanda peringatan dini untuk melihat kemampuan sosial dan komunikasi anak dapat diketahui dengan mudah oleh dokter anak. Tapi yang lebih penting, orangtua juga perlu memahami bagaimana tanda-tanda anak mengidap autisme. Risiko sang anak mengidap autisme semakin besar jika saudaranya mengidap autisme.
Sejak bayi menginjak usia 1 tahun, periksalah kondisi sosial dan emosionalnya. Biasanya, bayi berusia 6 bulan sudah bisa tersenyum kembali ketika diajak bercanda. Terkadang bayi tidak mengalami autisme, tetapi mengalami keterlambatan perkembangan yang juga sebaiknya dideteksi sejak dini.
Untuk mendeteksi adanya gangguan perkembangan mental, bayi berusia 9, 18, 24 dan 30 bulan sebaiknya diperiksa ke dokter anak. Dokter akan segera membantu jika ada kekhawatiran mengenai gangguan perkembangan anak atau jika ternyata hasil pemeriksaan autisme positif.
Bayi di bawah umur 3 tahun yang didiagnosis autisme harus dirujuk ke program intervensi dini, sedangkan anak yang lebih tua bisa mendapat penanganan khusus.
Seperti dilansir parenting.com, Senin (2/4/2012), tanda-tanda autisme pada bayi yang perlu diperhatikan orangtua adalah:
• Usia 3 bulan: Bayi tidak tersenyum ketika diajak tersenyum atau berbicara
• Usia 8 bulan: Bayi tidak ikut menatap mata ketika dipandang
• Usia 10 sampai 12 bulan: Bayi tidak melihat arah yang ditunjuk kemudian bereaksi menatap balik orang di hadapannya
Berikut adalah tanda-tanda autisme pada bayi yang sering digunakan dokter. Jangan panik jika bayi menunjukkan salah satu atau dua gejala berikut, tapi konsultasikan dengan dokter anak jika melihat salah satu dari tanda berikut:
• Usia 2 sampai 3 bulan, bayi tidak sering melakukan kontak mata
• Usia 3 bulan, bayi tidak tersenyum ketika diajak bercanda atau mendengar suara pengasuhnya
• Usia 6 bulan, bayi tidak tertawa atau membuat ekspresi gembira lainnya
• Usia sekitar 8 bulan, bayi tidak mengikuti pandangan mata ketika orang yang menatapnya memalingkan muka ke benda lain
• Usia 9 bulan, bayi belum mulai mengoceh
• Usia 1 tahun, bayi tidak konsisten menoleh ketika namanya dipanggil
• Usia 1 tahun, bayi nampak tidak peduli terhadap vokalisasi, yaitu kurang merespon saat namanya dipanggil. Namun memiliki kepekaan yang tajam terhadap suara lingkungan di sekitarnya
• Usia 1 tahun, bayi tidak terlibat dalam vokalisasi namanya bersama pengasuh
• Usia 1 tahun, bayi belum dapat melambaikan tangan seolah-olah mengucapkan selamat tinggal
• Usia 1 tahun, bayi tidak dapat mengikuti atau melihat ke arah yang ditunjuk
• Usia 16 bulan, bayi tidak berkata-kata
• Usia 18 bulan, bayi tidak nampak memiliki hal-hal yang menarik minatnya
• Usia 24 bulan, bayi tidak bisa mengucapkan dua kata yang memiliki arti
• Setiap saat, bayi nampak kehilangan salah satu keterampilan yang sebelumnya pernah dikuasai.

Anak-anak Autis Juga Punya Masa Depan

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak penyandang autis juga memiliki masa depan dan prestasi. Namun, mereka tidak bisa meraih itu sendiri, diperlukan bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk menerima dan memberikan kesempatan kepada mereka.  

Guna memberikan edukasi pada masyarakat tentang mengembangkan potensi anak-anak penyandang autis, London School Center of Autism Awareness (LSCAA) tahun ini kembali menggelar kampanye untuk membangun kesadaran dan kepedulian pada penyandang autis.

Tahun ini tema besar "Aku Bisa..."' menjadi fokus Autism Awareness Festival IV. Rizka Septiana dari London School of Public Relations di Jakarta, Selasa (3/4/2012), mengatakan Autism Awareness Festival IV dilaksanakan pada Sabtu, 14 April,  mulai pukul 10.00 hingga pukul 17.00.

Digelar beragam acara dan pameran sepanjang hari di Taman Menteng, Jakarta. Ada beberapa kegiatan lain seperti seminar yang terdiri dari empat sesi yang berbeda. Untuk sesi 1 ada informasi tentang persiapan orangtua menghadapi masa remaja pada anak autis dan sesi 2 soal manfaat yoga untuk anak autis.

Terkait pendidikan bagi anak autis dibahas di sesi 3, yakni pentingnya pendidikan vokasional untuk anak autis dan sesi 4 berisi workshop tentang pendidikan vokasional. Biaya seminar Rp 35.000.  

Hadir juga demo memasak oleh Ibu Rini Sanyoto. Chef yang akan membagikan resep-resep masakan yang sehat yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak autis.   Pengunjung juga dapat mencari informasi di stan-stan mitra LSCAA yang dapat memberikan informasi bagi para orangtua, seperti pusat terapi, sekolah inklusi, dan alat pendidikan.  

Pada acara ini digelar konser "Aku Bisa" yang menampilkan anak-anak autis yang berbakat, seperti menyanyi, bermain alat musik, band, main gamelan, dan menari.

Gelar karya anak-anak autis disajikan dalam acara Wall Achievement dan Showcase. Ini merupakan pameran yang berisikan karya anak-anak autis.   Informasi dan pendaftaran dapat menghubungi LSCAA (021) 57943801 atau 081511300225.