Home Visit Therapy


Kami memiliki program Home Visit Therapy, dimana kami akan datang ke rumah anak yang membutuhkan terapi, tentunya setelah ada perjanjian dahulu, dengan prosedure kami tetap melakukan assesment terhadap anak sebelum rangkaian terapi yang akan di jalani.

Hubungi kami segera :

Villa Nusa Indah II, U20/15, Jati Asih Bekasi HP 02199058926, 085810318775, 087877652778

Mencegah Anak Berkebutuhan Khusus menjadi sasaran Bullying di Sekolah

by Riswanto
Bullying
merupakan salah satu bentuk dari agresifitas, dimana pada penjabarannya berarti tindakan agresif yang dilakukan secara sistematis dan terencana serta berulangkali oleh seseorang yang memiliki kedudukan yang lebih baik (secara fisik maupun mental) terhadap orang lain , dimana tindakan ini dilakukan secara individual maupun berkelompok.
Bullying dapat berupa tindakan kekerasan fisik , agresifitas verbal, pengucilan, pemaksaan dan lain-lain. Tindakan-tindakan ini terjadi di seluruh institusi pendidikan di dunia. Dalam artian, hal ini terus terjadi dan tidak bisa dihilangkan 100%. Bullying tidak hanya dilakukan oleh sesama murid, tetapi tidak jarang dilakukan oleh pendidik (guru). Tindakan bullying dalam intensitas
yang tinggi dapat mengarah pada tindakan kriminal seperti pelecehan seksual.
Anak berkebutuhan khusus dengan kemampuan adaptif yang tinggi (high functioning) memiliki kemampuan secara akademik maupun sosial (dalam taraf cukup) untuk mengikuti jenjang pendidikan di sekolah umum atau inklusi. Namun demikian adanya perbedaan dalam tingkah laku maupun kondisi fisik, menjadikan anak-anak ini sasaran empuk perilaku bullying.
Seperti sudah disebutkan di atas, perilaku bullying tidak bisa dihilangkan 100% namun perilaku ini dapat diminimalisir. Antara lain dengan cara :
1.       Meminta anak bercerita mengenai keseharian di sekolah
Orangtua harus menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak mengenai kegiatan atau apa yang dialami oleh anak di sekolah. Tanyakan mengenai kegiatan apa yang dilakukan, ada kejadian apa hari ini, dan lain-lain.
2.       Memeriksa kondisi fisik anak
Secara teliti, orangtua memeriksa kondisi fisik anak. Apakah ada bekas luka, goresan, dan lain-lain pada tubuh anak.
3.       Menggali informasi dari teman sekelas anak
Sesekali tanyakan mengenai kondisi anak kepada teman sekelasnya. Hal ini bisa dilakukan bila anak belum memiliki kemampuan yang memadai untuk bercerita.
Misalnya dalam bentuk pertanyaan
"Audrey, kalau di kelas Evelyn suka main sama siapa saja?"
"Suka ada yang gangguin tidak ?"
4.       Menjaga kontak secara rutin dengan pihak sekolah (guru)
Bila anak pulang dengan kondisi emosi yang berbeda dari biasanya, segera tanyakan ke guru, ada kejadian apa di sekolah.
5.       Mencari informasi dari pihak lain, seperti sesama orangtua, babysitter, pengasuh,dan lain-lain
Orang-orang ini dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui atmosfir belajar di sekolah serta pergaulan anak di sekolah. Mereka umumnya tahu figur-figur yang ada di sekolah.
6.       Membekali anak dengan pemahaman norma sosial
Anak yang memahami norma sosial akan menolak atau setidaknya berusaha menolak bila teman meminta mereka melakukan hal yang buruk. Pengajaran dapat berupa : mengajarkan anak mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain (dada-pada anak perempuan, alat kelamin,bokong), mengajarkan  anak untuk berpakaian sopan (anak perempuan tidak boleh mengangkat rok), mengajarkan mengenai toilet training (buang air di WC, mencuci tangan, membersihkan diri setelah buang air)-saat anak bisa melakukan kegiatan buang air sendiri, akan meminimalisasi terjadinya pelecehan seksual-.
7.       Menjelaskan keadaan anak kepada teman maupun orangtua murid yang lain
Melakukan psikoedukasi atau penjelasan sangat efektif, karena seringkali anak-anak melakukan perbuatan iseng karena mereka tidak tahu kondisi individu yang mereka jadikan sasaran. Penjelasan mengenai kondisi anak dapat dilakukan saat event-event tertentu, atau orangtua dapat meminta guru untuk melakukannya. Keterbukaan orangtua mengenai keterbatasan anak patut ditekankan, agar guru maupun murid-murid lain paham mengenai kondisi si anak.

--
<Ambrosius Torro>
http://www.ku-creatives.co.cc
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com

Do You Feel Guilty About Your Child's Autism?

Whose fault is autism?

It was a very long time ago that the "refrigerator mother" theory of autism was tossed out the window.  Now, no reasonable person would suggest that mom's bad attitude is a direct cause of autism.

So why do so many parents have feelings of guilt about autism?  There are two likely reasons.

First, some parents may feel that their genetic legacy is the problem.  They've seen autistic symptoms in their own family, and now note their child is an awful lot like Uncle Bill or Aunt Sally...  Of course, this is perfectly possible - but of course no parent can control the genes they pass along.  One could decide not to have children at all, given genetic flaws in one's heritage, but that would certainly limit the number of children in the world.  After all, none of us comes from a long line of genetically perfect people!

The second reason so many seem to feel guilty about their child's autism relates to the belief that something mom or dad did directly caused autism in an otherwise healthy child.  This concern is much more serious, because it suggests that mom, dad, or both could have prevented the autism if only they'd taken or avoided a specific action.  And the media around autism certainly supports this idea.  Could the autism have been prevented if only mom had avoided the tuna or the flu shot during pregnancy?  Could dad have "just said no" to autism by taking a job in a town that was less polluted?  Was it all about the vaccines that mom and dad "allowed" their pediatrician to inject?   Blogs, videos, TV interviews and radio all offer up stories of parents beating themselves up over just this sort of possibility.

What makes all this even tougher is the fact that very few families really know why their child is autistic.  Unless your child has a specific (rare) genetic disorder or there has been a known exposure to unusual substances (valproic acid in utero, and a few others), you will likely never know.

Do you feel guilty about your child's autism?

Share your thoughts!



--
<Ambrosius Torro>
http://www.ku-creatives.co.cc
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com

RETT SYNDROME

What is Rett syndrome
Rett syndrome is a neurological and developmental disorder that mostly occurs in females.  Infants with Rett syndrome seem to grow and develop normally at first, but then stop developing and even lose skills and abilities.

For instance, they stop talking even though they used to say certain words.  They lose their ability to walk properly.  They stop using their hands to do things and often develop stereotyped hand movements, such as wringing, clapping, or patting their hands. 

Rett syndrome is considered one of the autism spectrum disorders. Most cases of Rett syndrome are caused by a mutation on the MECP2 gene, which is found on the X chromosome.  For more information on the MECP2 gene, see the What causes Rett Syndrome? (PDF - 697 KB) section of NICHD's Rett Syndrome publication.

What are the symptoms of Rett syndrome?
Beginning between 3 months and 3 years of age, most children with Rett syndrome start to show some of the following symptoms:
  • Loss of purposeful hand movements, such as grasping with fingers, reaching for things, or touching things on purpose
  • Loss of speech
  • Balance and coordination problems, including losing the ability to walk in many cases
  • Stereotypic hand movements, such as hand wringing
  • Breathing problems, such as hyperventilation and breath holding, or apnea when awake
  • Anxiety and social-behavioral problems
  • Intellectual and developmental disabilities

There are a number of other problems common among those who have Rett syndrome.  But having these problems is not necessary to get a diagnosis of Rett syndrome.  These problems can include:

  • Scoliosis, a curving of the spine that occurs in approximately 80 percent of girls with Rett syndrome
  • Seizures
  • Constipation and gastro-esophageal reflux
  • Cardiac or heart problems, specifically problems with the rhythm of their heartbeat
  • Problems feeding themselves, trouble swallowing and chewing
  • Problems with sleep, specifically disrupted sleep patterns at night and an increase in total and daytime sleep.

For more details on symptoms of Rett syndrome and other associated problems, see What are the typical features of Rett syndrome? (PDF - 697 KB) in NICHD's Rett Syndrome publication.

What is the usual course of Rett syndrome?
Health care providers view the onset of Rett syndrome symptoms in four stages:
  • Early Onset Phase – Development stalls or stops.
  • Rapid Destructive Phase – The child loses skills (regresses) quickly.  Purposeful hand movements and speech are usually the first skills lost.
  • Plateau Phase – Regression slows, and other problems may seem to lessen or improve. Most people with Rett syndrome spend most of their lives in stage 3.
  • Late Motor Deterioration Phase – Individuals may become stiff or lose muscle tone; some may become immobile.

Most girls with Rett syndrome live until adulthood.  They will usually need care and assistance throughout their lives

What is the treatment for Rett syndrome?
There is currently no cure for Rett syndrome. However, girls can be treated for some of the problems associated with the condition. These treatments generally aim to slow the loss of abilities, improve or preserve movement, and encourage communication and social contact.

People with Rett syndrome often benefit from a team approach to care, in which many kinds of health care providers play a role, along with family members.  Members of this team may include:

  • Physical therapists, who can help patients improve or maintain mobility and balance and reduce misshapen back and limbs
  • Occupational therapists, who can help patients improve or maintain use of their hands and reduce stereotypic hand movements.
  • Speech-language therapists, who can help patients use non-verbal ways of communication and improve social interaction.

Other options, such as medication (such as for constipation or heart problems) or surgery (to correct spine curvature or correct heart defects) are also effective for treating some of the symptoms of Rett syndrome.

For more details on treatment, see the Are there treatments for Rett syndrome? (PDF - 697 KB) section of NICHD's Rett Syndrome publication.

--
<Ambrosius Torro>
http://www.ku-creatives.co.cc
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com

5 Kebutuhan Empati Anak Autis

KOMPAS.com - Orangtua yang memiliki anak penyandang autisme perlu
bersabar, lebih peduli, memahami kebutuhan anak, berupaya tegas namun
tidak keras, dan semuanya itu bisa dijalankan dengan berempati.

Psikiater, dr Kresno Mulyadi, SpKj, menyebutkan lima kebutuhan anak
penyandang autisme, yang perlu diperhatikan lebih ekstra oleh orangtua
juga keluarganya. "Dalam mengasuh dan merawat anak dengan autisme,
kunci utamanya adalah empati," katanya kepada Kompas Female di sela
acara peluncuran buku karangannya, Autism is Treatable, yang
diterbitkan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public
Relations Jakarta memeringati hari jadi LSPR Jakarta ke-19, di
Jakarta, Minggu (10/7/2011).

Perlu dipahami, autisme merupakan suatu spektrum dengan rentang yang
luas. Artinya ada autisme berat, sedang, ringan, dan sangat ringan.
Semuanya bisa diterapi. Semuanya juga membutuhkan empati orangtua
dalam mengasuh dan merawat anak autis.

1. Komunikasi
Biasanya, yang terjadi pada pengasuhan anak dengan autisme adalah
komunikasi yang tidak optimal antara anak autis dan orangtuanya.
Setiap kali berkomunikasi dengan anak autis, orangtua perlu bersabar
dan tidak menekan anak.

"Ajak anak bicara pelan-pelan, beritahu anak apa maksud Anda. Saat
berkomunikasi, bisa jadi anak sedang berimajinasi, sehingga ia tidak
menangkap pesan Anda saat itu. Jadi, bersabarlah, dan pahami
kondisinya saat itu, ajak lagi ia berbicara agar maksud Anda
tersampaikan dan diterima anak dengan baik," jelas motivator anak yang
akrab disapa Kak Kresno ini.

2. Sosialisasi
Pada anak dengan autisme berat ia cenderung menyendiri, sedangkan anak
dengan autisme ringan cenderung memberi kesan ia pilih-pilih terhadap
sesuatu.

Sekali lagi, pesan Kak Kresno, kenali autisme pada anak, dan jangan
melarang anak melakukan apa yang disukainya atau membuatnya nyaman.
Temani anak dalam berkegiatan, usahakan jangan ada pemaksaan. Jangan
juga memberikan labeling pada anak ketika ia melakukan sesuatu yang
menurut kebanyakan orang, aneh. Pahami kondisi anak Anda, berempati
lah atasnya.

3. Emosi
Anak penyandang autisme memiliki emosi yang labil. Ia mudah marah,
takut yang tidak rasional, tertawa berlebihan, jelas Kak Kresno. Namun
jangan pernah menganggap perilaku anak autis sebagai sesuatu yang
aneh.

Sebagai orangtua, Anda perlu memperlakukan anak autis dengan lebih
bijak. Pahami emosinya. Bagaimana pun anak autis memiliki perasaan
yang peka. Ia bisa sangat peka, namun juga bisa tidak punya empati
sama sekali. Perlakuan orangtua atau keluarga yang keliru atas
emosinya, berdampak pada anak autis.

"Dengan tidak memahami emosi, tidak berempati atas emosi anak autis,
konsep dirinya akan jatuh. Sama seperti anak pada umumnya, ketika ia
diberi label, maka ia justru akan menjadi seperti yang dilabelkan
kepadanya. Jika mengatakan anak nakal, maka ia akan benar-benar
bersikap nakal," jelas Kak Kresno.

4. Repetitif
Anak penyandang autisme cenderung melakukan sesuatu yang disenanginya
secara berulang. Lagu yang disukainya diputarnya berulang kali.
Makanan yang disukainya akan terus menerus dikonsumsinya setiap kali
ia lapar. Pakaian yang disenanginya akan terus dipilihnya, cuci pakai
berulang-ulang,

"Perilaku repetitif ini dialami sejumlah anak penyandang autisme.
Tugas orangtua adalah mengenalkan hal lain yang berbeda kepadanya.
Kalau anak belum mau, tidak apa, jangan dipaksa, namun jangan juga
memberikan labeling kepada anak atas perilaku repetitifnya,"
lanjutnya.

5. Persepsi
Anak autis kerapkali tidak nyaman dengan penginderaannya. Ia tak
menyukai suara tertentu yang didengarnya. Matanya tak nyaman saat
memandang sinar tertentu. Orangtua perlu berempati dan memahami
kondisi ini.

"Orangtua perlu menyikapi dengan cara yang tepat. Sabar, berempati,
namun tidak memanjakan. Berupaya tegas namun tidak keras," tandas Kak
Kresno.

--
<Ambrosius Torro>
http://www.ku-creatives.co.cc
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com

Tuhan itu Arsitek yang Agung!

Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.

Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku… yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat… berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya,… reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?…Di usia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku,… Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi… ULAT BULU… hiiii…

Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant,… anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah,… dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.

Ahhh, sudahlah… life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini. Baru saja hendak memasak, tiba2 kudengar jeritannya…Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.

Aku keruang setrika… dan disana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih nempel diatas punggung tangan kirinya.!!!

Oh… My… God!!! *panik*

Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya… dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu… :(( :(( :((

AAAAAARRRRGGGHHHH…

Sumpah kalau saja ini bukan anakku,… Aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan… Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu… itu sudah berubah menjadi putih kekuningan… Dan luka di tangannya… juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang :((

Aku menjerit sekencang-kencangny a… Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur… lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani… tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku.

AKU PINGSAN!!!

* * *

Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, Khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.

Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. GEDEBUK!!!…Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku…
Damn. Oh Tuhan… lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dial menggaruk luka di kepalanya yang bocor… Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya.

Tangannya berlumuran darah… Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis… Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.

Tapi itupun gak lama… karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik,… "mbak, minta handuk… handuk…CEPATTTT!!!" Dan lagi2 kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.

Dia tidak menangis… hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan… Hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…Lagi-lagi aku…PINGSAN..

* * *

Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.

Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar…. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini.

So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka. Anakku memang Autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa.

Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan2 mungilnya menari2 dengan lincah diatas tuts2 piano,… mendengarnya bercakap2 dalam bahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli… yang nyasar dalam tubuh putriku.

Namun, dibalik itu… Walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata "Autis".
Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah disebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini…

"Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? KAYAK ANAK LOE khan?… Loe marahin deh Sil… marahin Sil… Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe"

Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak…

Saya??? hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya… *doh*

Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun,… Saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik.

Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan "Stop Using Autism on our daily jokes" ini. Semoga berkenan.

=Written by A mother of an Authistic Child=

NB:
Gak cuma kata "Autis" aja, menurutku kata-kata lain yang merendahkan orang laen juga gak boleh dipake untuk bercanda. Semoga kita lebih bijak dalam bertutur kata…

--
<Ambrosius Torro>
http://www.ku-creatives.co.cc
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com

APPLIED BEHAVIORAL ANALYSIS ( ABA )

APPLIED BEHAVIORAL ANALYSIS ( ABA ) :
Sebuah Terapi untuk Anak Autis
Oleh : A. Yuria Ekalitani, S.Psi,C.Ht
http://duniapsikologianak.blogspot.com/

PENGANTAR
ABA adalah sebuah teknik yang digunakan sebagai treatment untuk penderita autis dan biasanya diterapkan pada anak-anak dengan gangguan autis. Terapi ini diberikan dengan maksud untuk melakukan perubahan pada anak autistis dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan ( belum ada ) ditambahkan. ABA yang diciptakan oleh O Ivar Lovaas, PhD dari University of California Los Angeles ( UCLA ) memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespon benar sesuai dengan instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman dalam terapi ini akan tetapi bila anak berespon negative ( salah / tidak tepat ) atau tidak berespon sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang dia sukai. Diharapkan dengan perlakuan ini dapat meningkatkan kemungkinan anak agar berespons positif dan mengurangi kemungkinan dia berespon negative atau tidak merespon instruksi yang diberikan.

Sesuai dengan namanya, teknik ini berangkat dari teori behavioristik dimana mereka meyakini bahwa perilaku berhubungan dengan system reward ( hadiah / penghargaan ) dan konsekwensi ( akibat ). Berangkat dari pemahaman dasar ini maka teknik ini biasanya digunakan sebagai dasar untuk metode mengajar. Oleh sebab itu, berangkat dari teori ini, Lovaas dan The Lovaas institute mengembangkan teknik ini dan menjabarkannya menjadi beberapa pengertian di bawah ini :

a) Applied

Meletakkan penugasan pada kondisi yang real

b) Behavioral Analysis

Observasi dan analisis yang dilakukan untuk obyek perilaku tertentu dengan tujuan untuk merubah atau menciptakan perilaku baru yang diinginkan.

Sehingga secara ringkas dapat dikatakan bahwa Applied Behavioral Analysis ( ABA ) adalah suatu teknik yang telah disusun secara sistematis untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan meningkatkan perilaku yang diharapkan.

TUJUAN PENANGANAN

Teknik ini diberikan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak autis terhadap aturan. Dari terapi ini hasil yang didapatkan signifikan bila mampu diterapkan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.

Mengapa Anak Autis ?

Seperti yang sudah ditulis diatas, terapi ini digunakan untuk anak yang autis. Anak autis memiliki gambaran unik dari anak lainnya hal ini menyebabkan perilaku anak autistis berbeda dari perilaku normal

Gambaran Unik Anak Autis

o Selektif yang berlebihan terhadap rangsangan sehingga kemampuan menangkap isyarat yang berasal dari lingkungan sangat terbatas.

o Kurang motivasi, bukan hanya sering menarik diri dan asyik sendiri tetapi juga cenderung tidak termotivasi menjelajah lingkungan baru atau memperluas lingkup perhatian mereka.

o Memiliki respon stimulasi diri tinggi. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu untuk merangsang diri sendiri misalnya bertepuk tangan.

o Memiliki respon terhadap imbalan. Mereka belajar paling efektif pada kondisi imbalan langsung yang jenisnya sangat individual. Namun respon ini berbeda untuk setiap anak autis.
Sumber : Terapi Anak Autis di Rumah, 2003. Widyawati, S; Rosadi, E ; Yulidar. Puspa Sehat :Jakarta. Hal. 24

Dari gambaran di atas maka tampak beberapa perilaku yang tentunya berbeda pada anak normal. Perilaku ini kemudian dapat dijabarkan ke dalam perilaku yang berlebihan, perilaku yang berkekurangan atau bahkan tidak ada sama sekali. Contoh perilaku yang berlebihan ini misalnya mengamuk. Sedangkan perilaku yang berkekurangan contohnya gangguan bicara, perilaku social yang tidak tepat. Semuanya hal di atas tentunya menjadi hal yang serius untuk segera ditangani. Oleh sebab itu, karena berkaitan dengan perilaku, maka teknik ABA inipun diterapkan.

LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DIPERHATIKAN :

a) Target perilaku yang mau dirubah harus jelas dan spesifik.

b) Tujuan jangka panjang dan jangka pendek yang hendak dicapai juga hendaknya jelas dan terarah

c) Perkembangan maupun kemajuan program yang dijalankan dapat terukur.

d) Harus ada pembagian peran yang jelas antara konselor, terapis, orangtua maupun caregiver yang terlibat.

e) Gambaran detail tentang positive maupun negative reinforcement yang akan digunakan.

f) Membuat gambaran yang jelas bagaimana perencanaan dapat digunakan untuk monitoring dan evaluasi demi keefektivan teknik tersebut.

PRINSIP PELAKSANAAN TEKNIK ABA

Prinsip awal pelaksanaan terapi ini adalah dengan meningkatkan kemampuan reseptif atau pemahaman anak autis. Dimulai dengan jumlah latihan yang sedikit untuk beberapa minggu pertama. Cara ini akan membantu terapis untuk terampil pada metode pengajaran dan membantu anak terbiasa pada kegiatan terstruktur.

Secara umum program awal ini meliputi program kesiapan belajar ( misalnya berespon terhadap nama ), program bahasa reseptif ( misalnya mengikuti perintah satu tahap ), program meniru ( misalnya meniru gerakkan motorik kasar ), dan program bahasa ekspresif ( misalnya menunjuk benda-benda yang diinginkan ) dan tugas menyamakan ( misalnya menyamakan benda-benda yang identik ). Ketika anak mengalami kemajuan, tambahkan program baru.

BEBERAPA TEKNIK YANG TERMASUK DALAM ABA

v Shaping v Task Analysis

v Chaining v Reinforcement

v Fading v Discrete Trial

v Redirection v Prompting

v Ignoring v Other

Dari beberapa teknik di atas, teknik yang paling sering digunakan adalah Discrete Trial. Metode Lovaas dengan teknik ABA ini dimulai dengan Discrete Trial ( ujicoba latihan )

Apa Itu Discrete Trial ?

§ Discrete trial adalah teknik khusus yang digunakan untuk memaksimalkan proses belajar.

§ Teknik ini juga dikombinasikan dengan teknik lain dalam pelaksanaan pada terapi ABA seperti prompting, fading, chaining.

§ Teknik ini dapat digunakan pada segala jenis usia dan populasi.

§ Proses yang banyak dikembangkan dalam teknik ini sebagian besar untuk mengembangkan kemampuan berpikir ( kognitif ), komunikasi, bermain, social maupun emosional serta bina diri.

§ Menekankan pada belajar sebagai proses aktif.

Teknik Discrete Trial :

a) Terapis memberi suatu stimulus atau rangsangan berupa instruksi ke anak yang memperhatikan terapis atau tugas di tangannya.

b) Stimulus ini mungkin diikuti oleh prompt untuk menimbulkan respon yang dimaksud.

c) Anak merespon benar/salah atau tidak merespon sama sekali

d) Terapis berespon dengan memberi imbalan atas respon anak yaitu memberi hadiah jika benar dan mengatakan tidak jika salah.

e) Terdapat senggang waktu atau interval singkat sebelum memulai uji coba berikutnya.

Beberapa hal yang ada dalam Discrete Trial ;

1. Instruksi

Instruksi yang diberikan hendaknya singkat, jelas dan konsisten.

Pada tahap awal, kalimat yang digunakan hendaknya berupa kalimat singkat.

2. Respon

Dalam merespon instruksi terapis, anak mungkin melakukannya dengan benar, setengah benar, salah atau tidak merespon sama sekali yang juga dinilai salah.

3. Prompt ( bantuan, dorongan dan arahan )

§ Beberapa anak memerlukan tambahan bantuan untuk melakukan keterampilan atau perilaku yang diinginkan

§ Prompt adalah setiap bantuan yang diberikan pada anak untuk menghasilkan respon yang benar.

§ Ada beberapa jenis prompt antara lain fisik, contoh, lisan, visual, posisi, ukuran benda, dengan menunjuk.

1. Imbalan / reward

§ Terapis harus memiliki pengetahuan yang cukup dari perilaku dengan reward bagi anak autis.

§ Reward mempunyai dua aspek penting yaitu jenisnya dan bagaimana cara memberikannya.

a. Jenis reward

• Reward positif

Reward yang diberikan setelah suatu perilaku kemudian akan meningkatkan perilaku tersebut

• Reward negative

Anak tidak akan meningkatkan perilaku tersebut

b. Pemadaman ( extinction )

§ Pemadaman berarti suatu stimulus yang merupakan suatu imbalan yang tidak lagi diberikan.

§ Contohnya : jika selama ini anak mendapatkan perhatian terhadap amukkan ( tantrum ) dan perhatian tersebut sebagai reward positive sehingga anak memelihara tantrumnya maka cara efektif untuk menghilangkannya adalah dengan tidak lagi memberikan perhatian saat anak tantrum.

§ Berikut adalah 3 hal penting pada pemadaman :

ü Prinsip pemadaman adalah pengurangan bertahap dari kekuatan perilaku tersebut bukan suatu penurunan tajam dan dramatis seperti ciri hukuman.

ü Biasanya, pada awal pemadaman terdapat peningkatan kekuatan perilaku karena anak semakin berusaha mendapatkan kembali imbalan.

ü Anak akan lebih kreatif pada usahanya untuk memperoleh perhatian untuk amukkannya.

c. Time out

• Menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan imbalan

d. Cara memberikan imbalan

• Imbalan harus tergantung pada perilaku

• Pelaksanaan harus konsisten

• Pemberian imbalan jangan bermakna ganda

• Imbalan harus mudah dibedakan oleh anak

e. Selang waktu pemberian Discrete Trial ( uji coba )

§ Selang waktu uji coba adalah waktu antara reward satu uji coba dan mulainya suatu instruksi untuk uji coba berikutnya

§ Anak yang memperlihatkan banyak perilaku lepas tugas memerlukan selang waktu ujicoba yang pendek agar dapat mengurangi kesempatan untuk terjadinya perilaku tersebut.

§ Selang waktu uji coba ini biasanya berkisar antara 3-5 detik. Hal ini akan membantu anak mengetahui bahwa terapis telah mengakhiri suatu uji coba terakhir dan akan memberikan uji coba yang baru lagi.

Tiga Komponen Penting dalam Discrete Trial :

1. Stimulus Discriminative = SD

2. Respon Anak = R

3. Stimulus Respons = SR

Components of a Discrete Trial

Contoh :

AKTIVITAS A

Skill : Anak diminta oleh terapis untuk memberikan benda yang diminta oleh terapis.

Identifikasi kemungkinan SD, R dan SR yang terjadi :

SD : " Ambil crayon ! "

R : anak memberikan crayon

SR : " Wow. Bagus sekali ! "

Jika anak tidak tepat melakukannya tetapi memberikan perhatian :

SR : ' Hampir tepat. Ayo coba lagi "

Jika anak melakukannya dengan tepat tapi tanpa memperhatikan terapis

SR : " Baik. Sekarang lihat saya. "

AKTIVITAS B

Skill : Anak duduk di kursi sesuai perintah

Identifikasi kemungkinan SD, R dan SR yang terjadi :

SD : " Duduk di kursi itu '

R : Anak duduk di kursi

SR : " Bagus sekali ! "

Jika anak tidak tepat melakukannya tetapi memberikan perhatian :

SR : ' Bagus. Kamu sudah mencoba. Ayo coba lagi "

Jika anak melakukannya dengan tepat tapi tanpa memperhatikan terapis

SR : " Dengarkan. "

GENERALISASI DAN PEMELIHARAAN DARI PERUBAHAN PERILAKU

Karakteristik umum anak autis yaitu tidak mampu menggeneralisasikan keterampilan yang baru dipelajari ke keadaan berbeda dari apa yang terdapat saat latihan. Selama pengajaran awal terapis sering memelihara kendali ketat terhadap instruksi yang diberikan, benda-benda yang ditunjukkan, susunan duduk dan tatanan lainnya.

Biasanya generalisasi dilakukan setelah keterampilan target telah dikuasai. Namun pada anak yang cakap, mungkin generalisasi dapat dimulai ketika keterampilan baru saja muncul. Berikut ini tiga jenis generalisasi :

1. Generalisasi rangsang ( stimulus generalization )

Jika terapi perilaku tetap terjadi sebagai respon dari berbagai rangsang, bisa terjadi di kelas, di rumah, di taman dan di rumah orang lain. Seorang terapis mengajarkan anak agar dapat melakukan suatu perilaku, tetapi anak tidak melakukan perilaku tersebut bagi orang atau terapis lain. Anak belajar merespon beberapa bagian tertentu misalnya gerakkan tangan terapis, tetapi karena bagian ini tidak ada pada keadaan yang lain, perilaku tidak tergeneralisasikan.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan :

a) Program rangsang yang sama

Setiap latihan perlu mengandung rangsang yang sama

b) Modifikasi berturutan pada perilaku

Disesuaikan dengan konteks lingkungan tempat dia tinggal.

c) Melatih dengan banyak contoh

Berikan anak beberapa alternative dengan pola yang sama.

2. Generalisasi respon ( respon generalization )

Dalam hal ini yang dapat diperhatikan adalah bahasa, pelajaran meniru dan mengamati, kepatuhan serta penekanan pada perilaku yang tidak sesuai.

3. Generalisasi sepanjang waktu ( pemeliharaan )

Mempertahankan efek dari terapi supaya tetap dikuasai anak sepanjang waktu. Jika keterampilan telah dikuasai anak, generalisasi dan pemeliharaan dapat ditingkatkan secara bertahap dengan mengurangi sedikit demi sedikit frekuensi dan jenis imbalan.

Selama fase ini, frekuensi ujicoba latihan dikurangi. Secara umum, pemeliharaan dinilai sekali seminggu selama periode 3-6 minggu.


DAFTAR PUSTAKA

Bettelheim,B. The Empty Fortress : Infantile Autism and The Birth of the Self. New York : Free

Mash J, Wolfe D. Abnormal Child Psychology. 2005. Thomson Learning, Inc : USA

Veskarisyanti, G. 12 Terapi Autis Paling Efektif dan Hemat. 2008. Pustaka Anggrek : Yogyakarta

Widyawati, S; Rosadi, E ; Yulidar. Terapi Anak Autis di Rumah, 2003.Puspa Sehat : Jakarta.

Tips Bepergian dengan anak Autis

KOMPAS.com — Anak penderita autisme menyukai hal-hal yang rutin dan terstruktur. Karena itu, bepergian berarti mengganggu rutinitas mereka. Tak heran bila banyak orangtua yang memiliki anak autis menghindari acara bepergian. Padahal, dengan tips berikut, orangtua tetap bisa mengajak anak autis melakukan perjalanan jauh untuk liburan.

1. Jelaskan tempat tujuan
Sebelum bepergian, jelaskan kepada anak tentang tempat tujuan yang akan didatangi. Demikian saran dari Daniel Openden, Direktur Southwest Autism Research and Resource Center, Phoenix, AS. "Tunjukkan foto atau film mengenai lokasi yang akan dikunjungi. Ceritakan pula alasan datang ke tempat tersebut dan kegiatan yang akan dilakukan di sana," katanya.

2. Bepergian dengan pesawat
Jelaskan kepada awak pesawat mengenai kondisi anak Anda. Untuk mengusir rasa bosan di dalam pesawat, siapkan buku atau mainan untuk anak. Bawalah permen, terutama bila Anak tidak bisa berkomunikasi verbal dan tidak bisa mengungkapkan bila telinganya berdengung.

3. Menginap
Berencana untuk menginap di hotel selama liburan? Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk menginap di tempat lain, bisa di rumah kerabat atau hotel di kota untuk satu malam agar anak terbiasa dengan suasana tidur yang lain. Agar anak tidak terlalu "kaget" dengan suasana baru, bawalah bantal atau selimut yang biasa dipakainya.

4. Keamanan
Untuk berjaga-jaga, kenakan tanda pengenal yang berisi data diri dan nomor telepon Anda. Bawalah juga foto anak untuk ditunjukkan pada polisi bila si kecil terpisah dari Anda.

5. Sesuaikan minat anak
Agar si kecil menikmati perjalanannya, ajak ia mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan minatnya. Misalnya ke Sea World bila ia tertarik pada hewan laut atau ke kolam renang bila ia suka berenang. Hindari jadwal yang terlalu padat, luangkan waktu agar anak bisa bermain-main di kamar hotel agar si kecil tak terlalu lelah.

--
<Ambrosius Torro>
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com



--
<Ambrosius Torro>
http://www.globaltalitakum.com
http://zachky.blogspot.com
http://www.kuplix.co.cc
http://freakbiker.blogspot.com